Minggu, 18 Desember 2011

Rokok dan Osteoporosis

PENGARUH ROKOK
TERHADAP RESIKO OSTEOPOROSIS








KHAIRI AMRUDDIN
20080320166





PROGRAM SETUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2011


DAFTAR ISI

















PENDAHULUAN


Rokok adalah barang yang paling mudah di temukan, bahkan hingga kepelosok pedesaan. Kebiasan merokok telah menjadi suatu hal yang biasa dalam masyarakat di seluruh dunia, perusahan rokok bahkan telah menjadi seperti pahlawan bagi atlet disebabkan tidak sedikit perusahaan rokok yang rela mengucurkan dana untuk biasiswa pendidikan mereka. Fenomena ini telah menjadi jurang penghalang bagi profesi kesehatan untuk melakukan tindakan promosi prilaku hidup sehat, salah satunya adalah menghilanngkan kebiasaan merokok.
Kerugian yang ditimbulkan rokok tidak hanya terbatas pada individu perokok itu sendiri tetapi mencakup kerugian yang lebih luas seperti aspek lingkungan yang dimana asap rokok menyebabkan polusi udara, aspek kenyamanan bagi perokok pasif, dan secara lebih lanjut menurut penulis perokok adalah individu yang melakuakan pelanggaran HAM karena telah merebut hak orang lain untuk mendapatkan udara yang bersih.
Kebiasaan merokok dapat mengakibatkan beberapa gangguan bagi tubuh, semakin lama seseorang mengkonsusmsi rokok semakin besar pula efek atau gangguan yang ditimbulakan dalam tubuh, pada dasarnya tidak ada seorangpun yang mau mengalami sakit terlebih jika sakitnya tersebut menyebabkan seseorang menjadi tidak produktif lagi karena secara psikologis ia akan merasa hidupnya tidak berguna, hanya merepotkan orang lain. Pada makalah ini penulis akan membahas efek rokok terhadap resiko osteoporosis.


PEMBAHASAN


A.    Definisi Rokok

            Rokok adalah gulungan tembakau yang disalut dengan daun nipah. Merokok adalah suatu kata kerja yang berarti melakukan kegiatan atau aktifitas menghisap, sedangkan perokok adalah orang yang suka merokok (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2002).

B.     Kandungan Kimia Rokok

                  Rokok mengandung berbagai bahan kimia yang berbahaya, bahan yang paling dikenal berbahaya adalah nekotin dan karbon monoksida. Setiap batang rokok yang dinyalakan akan mengeluarkan lebih dari 4000 bahan kimia beracun yang berbahaya dan dapat mengakibatkan maut. Dengan ini, setiap sedutan itu menyerupai satu sedutan maut. Di antara kandungan asap rokok termasuklah aceton (bahan pembuat cat), naftalene (bahan kapur barus), arsen, tar (bahan karsinogen penyebab kanker), methanol (bahan bakar roket), vinyl chloride (bahan plastik PVC), phenol butane (bahan bakar korek api), potassium nitrate (bahan baku pembuatan bom dan pupuk), polonium-201 (bahan radioaktif), ammonia (bahan pencuci lantai), dan sebagainya.
                  Berikut ini adalah deskripsi bahan kimia yang terkandung pada rokok :
1.      Nekotin
Komponen ini terdapat di dalam asap rokok dan juga di dalam tembakau yang tidak dibakar. Nikotin bersifat toksik terhadap jaringan saraf, juga menyebabkan tekanan darah sistolik dan diastolik mengalami peningkatan. Denyut jantung bertambah, kontraksi otot jantung seperti dipaksa, pemakaian oksigen bertambah, aliran darah pada pembuluh koroner bertambah, dan vasokonstriksi pembuluh darah perifer. Nikotin meningkatkan kadar gula darah, kadar asam lemak bebas, kolesterol LDL, dan meningkatkan agregasi sel pembekuan darah. Nikotin memegang peran penting dalam ketagihan merokok, ini dikarenakan nekotin bersifat adiktif.
2.      Tar
Tar hanya dijumpai pada rokok yang dibakar. Eugenol atau minyak cengkeh juga diklasifikasikan sebagai tar. Di dalam tar, dijumpai zat-zat karsinogen seperti polisiklik hidrokarbon aromatis, yang dapat menyebabkan terjadinya kanker paru-paru. Selain itu, dijumpai juga N nitrosamine di dalam rokok yang berpotensi besar sebagai zat karsinogenik terhadap jaringan paru-paru (Sitepoe, 2000). Tar juga dapat merangsang jalan nafas, dan tertimbun di saluran nafas, yang akhirnya menyebabkan batuk-batuk, sesak nafas, kanker jalan nafas, lidah atau bibir.
3.      Karbon monoksida
Gas ini bersifat toksik dan dapat menggeser gas oksigen dari transport hemoglobin. Dalam rokok, terdapat 2-6% gas karbon monoksida pada saat merokok, sedangkan gas karbon monoksida yang diisap perokok paling rendah 400 ppm (part per million) sudah dapat meningkatkan kadar karboksi-hemoglobin dalam darah sejumlah 2-16%. Kadar normal karboksi-hemoglobin hanya 1% pada bukan perokok. Seiring berjalannya waktu, terjadinya polisitemia yang akan mempengaruhi saraf pusat.
4.      Timah hitam
Timah hitam merupakan partikel asap rokok. Setiap satu batang rokok yang diisap mengandung 0,5 mikrogram timah hitam. Apabila seseorang mengisap 1 bungkus rokok perhari, 10 mikrogram timah hitam akan dihasilkan, sedangkan batas bahaya kadar timah hitam di dalam tubuh adalah 20 mikrogram/hari.

C.     Fungsi dan Proses Pembentukan Tulang

                  Tulang merupakan kerangka penunjang tubuh terhadap kompresi, gaya tarik bumi (gravitasi) dan merupakan system pengungkit kaku yang menjadi dasar gerakan. Sesungguhnya jaringan atau sel-sel tulang, kartilago dan jaringan ikat pada individu yang hidup adalah aktif. Tulang mengalami pertumbuhan dan perkembangan, sel-sel tersebut harus mendapatkan nutrisi dan oksigenasi yang cukup untuk menjalankan metabolisme dan memproduksi zat sampah, tulang juga memerlukan hormon, diantaranya adalah; hormon pertumbuhan (growth hormon), kalsitonin (di kelenjar tiriod), dan yang lain.
                  Berikut adalah bebrapa fungsi tulang bagi tubuh :
1.      Melindungi organ-organ vital interna
2.      Penghasil sel darah tertentu (granulosit, eritrosit)
3.      Menyimpan cadangan mineral tertentu, seperti ion kalsium dan phosphor, dimana bila konsentrasi dalam darah diatas normal, maka ion tersebut akan disimpan dalam sel tulang dan sebaliknya jika konsentrasi dalam darah menurun, maka ion akan dilepaskan untuk mempertahan kan homeostasis. Kondisi ini dikendalikan oleh hormon.
4.      Member bentuk tubuh, menyangga berat badan dan menegakkan tubuh.
5.      Tempet perlekatan otot (tendon) dan sebagai alat gerak pasif.
                  System skeletal terdiri atas dua jaringan yaitu; “Pars Ossea (tulang), bahan yang kaku, lebih berat dan tahan terhadap kekuatan deformasi (perubahan bentuk/formasi). Kartilago (tulang rawan/ Pars Cartilaginosa), merupakan suatu bahan yang lentur, keras dan relative ringan”. Skeleton dibentuk oleh kedua jaringan tersebut, proporsinya bervariasi tergantung pertumbuhan. Semakin muda tubuh semakin besara proporsi kartilagonya. Proses pembentukan tulang terjadi dengan dua cara yaitu :
1.      Osteogenesis enchondralis (osteogenesisi cartilagenia)
Pada cara ini, model kartiago (tulang rawan) yang ada sejak pertamakali diubah menjadi tulang, misalanya pada pembentukan tulang panjag. Badan (batang, tangkai) suatu tulang yang menulang dari suatu pusat penulangn primer disebut diaphysis. Pusat penulang sekunder terbanyak terbentuk setelah kelahiran. Bagian tulang yang mengalami penulangan melalui pusat sekunder disebut epiphysis. Bagian ini dipisahkan dari diaphysis oleh suatu jaringan kartilago yang disebut discus epiphysialis. Bagian diaphysis yang melebar dan terlatak paling dekat pada epiphysis dan mengandung zona pertumbuhan dikenal sebagai metaphysi. Supaya pertumbuhan memanjang dapat berlangsung, tulang yang berasal dari pusat primer dalam diaphysis tidak melebur dengan tulang yang berasal dari pusat sekunder dalam kedua epiphysis sampai ukuran tulang dewasa tercapai. Selama pertumbuahan tulang, lempeng tulang rawan yang dikenal sebagai discus epiphysialis terdapat antara diaphysis dan kedua epiphysis. Lempeng pertumbuhan ini pada akhirnya diganti dengan tulang pada kedua sisinya. Bilamana hal ini terjadi, pertumbuhan tulang berhenti dan diaphisis melebur dengan kedua epiphysis.  Tulang yang tarbentuk pada proses peleburan (sinostosis) ini, terutama bersifat padat dan dikenal sebagai epiphyseal line. Pelaburan epiphyseal line pada tulang berlangsung secara progresif dari masa aqil balig (remaja awal) samapi usia dewasa (mature).


2.       Osteogenesis desmalis (osteogenesis membranacea, osteogensis intaramembaranosa)
Pada proses ini, tualang berkembang secara langsusng dari jaringan ikat, misalnya pada pembentukan os calvaria dan os sesamodia termasuk juga pada os patella.

D.    Pataofisiologi Osteoporosis

                  Banyak bukti menunjukkan bahwa merokok dapat menurunkan densitas tulang, dan menyebabkan fraktur tulang panggul pada wanita yang sudah menopause. Terdapat mekanisme yang terlibat dalam proses ini. Zat nikotin dan zat kadmium yang terdapat dalam asap rokok mempunyai efek langsung pada sel-sel tulang. Densitas tulang pada perokok juga dipercayai berkurang akibat rendahnya absorpsi kalsium dan vitamin D, serta terdapat perubahan metabolisme dari beberapa hormon tubuh, terutamanya estrogen, yang terlibat secara tidak langsung dalam pembentukan tulang (Winstanley, 2008). Osteoporosis merupakan penyakit metabolik tulang atau disebut juga penyakit tulang rapuh atau tulang keropos. Osteoporosis diistilahkan juga dengan penyakit silent epidemic karena sering tidak memberikan gejala hingga akhirnya terjadi fraktur (patah).
                  Faktor risiko terjadinya osteoporosis antara lain faktor genetik, nutrisi (rendahnya asupan kalsium, magnesium, dan fosfor, sering minum alkohol, kopi, mengonsumsi garam berlebih serta protein yang berlebih), gaya hidup (merokok, rendahnya aktivitas fisik), pengaruh pola hormon endokrin tertentu khususnya pada mereka yang memiliki berat badan berlebih, serta penggunaan obat-obatan tertentu (obat-obat antikejang, pengencer darah dan kemoterapi.
                  Dilihat dari perjalanannya zat-zat yang terkandung pada rokok masuk melalui jalan pernapasan hingga mencapai ke paru-paru, kemudian melalui pembuluh darah yang ada diparu-paru tersebut dibawa menuju organ-organ tubuh, termasuk tulang. Bersamaan dengan pemberian oksigenasi dan nutrisi oleh pembuluh darah, zat-zat tersebut juga ikut diabsorbsi oleh sel-sel organ terkait dalam hal ini adalah sel-sel tulang. Didalam sel, zat-zat tersebut mempengaruhi proses metabolisme, sehingga dapat menggangu pertumbuhan, perkembangan dan regenrasi sel. Osteoporosis sendiri merupakan keadaan yang diakibatkan oleh pengeroposan tulang atau secara lebih mudah adalah terhambatnya pertumbuahan tulang, dan defek regenerasi yang buruk.

E.     Rokok dalam Pandangan Islam

                  Sesuatu yang sifatnya merugikan dan tidak ada manfaatnya sama sekali dalam islam diistilahkan sebagai tindakan mubadzir, sedangkan menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya termasuk dalam hal ini adalah prilaku merupakan sesuatu kezoliman. Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela dimuka bumi dengan membuat kerusakan”(QS 26, ayat 23).
                  Dari ayat diatas sudah sangat jelas bagaimana pandangan islam terhadap rokok, Muhammadiyah sendiri telah mengharamkan rokok dan bahkan telah mendeklarasikan kawasan bebas asap rokok di lingkungan amal usaha yang didirikannya seperti misalanya di lingkungan UMY sendiri. Pada prinsipnya hampir seluruh organisasi islam diseluruh dunia telah bersepakat bahwa rokok adalah sesuatu yang merugikan dan secara hukum fiqih nilainya minimal adalah makruh.



KESIMPULAN


            Dari pembahasan diatas penulis menyimpulkan bahwasanya rokok merupakan suatu kebiasaan atau lifestyle yang buruk, tidak saja merugikan diri sendiri tetapi juga merugikan orang lain bahkan mungkin dapat merugikan seluruh mahluk yang ada di alam semesta ini. Sese orang yang mempunyai hobi merokok adalah individu egois yang tidak pernah berfikir bahwa dia telah merugikan orang lain.
            Kebiasaan merokok adalah suatu hal yang harus dihilangkan secara totalitas, minimal adalah memeberikan ruang khusus bagi peecandu rokok sehingga tidak membahyakan orang lain. Tenaga kesehatan dalam hal ini adalah perawat mmempunyai peranan yang penting untuk melakukan PENKES dan PROMKES sehingga dapat menyadarkan masyarakat mengenai bahaya rokok.








DAFTAR PUSTAKA


Guyton and Hall. (2007). Buku ajar fisisologi kedokteran. Irawati dkk (penerjemah). EGC.     Jakarta.
Smeltzer and Bare. (2001). Buku ajar keperawatan medikal bedah Bunner and Suddarth. Kuncara dkk (alih bahasa). EGC. Jakarta
Materi kuliah semester dua (dr. Erwin)
www. Kandungan kimia dalam rokok/pdf/artikel_ilmiah. html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar